Tips Menjauhkan Diri dari Insecure


Pernah Gak kamu merasa insecure dengan orang sekitarmu? Kalau pernah, tandanya kita sama. Aku bukan pernah, tapi sering. 

Insecure itu apa? Sejenis rendah diri. Mereka saudara kembar. Mirip jelangkung. Datang tak diundang. Pulang gak tahu kapan.

Seperti hari ini, aku insecure dengan postingan seseteman yang pagi-pagi sudah masak, punya anak kecil, rumah udah rapi, masaknya pakai bumbu asli lagi. Itu semua dilakukan mandiri tanpa ART.

Kalau aku, bisa sih pagi masak. Tapi mesti ada bantuan. Yang bantu, Mbak yang kerja, datang jam tujuh, pulang jam sepuluh. Tapi tak selalu ada. 

Jangan dibilang orang yang punya ART itu dominan orang punya. Tidak juga. Zaman punya bayi, babyblues, ekonomi sulit, salah satu faktor yang buat aku sembuh itu, adalah keberadaan ART.

Walau duit tipis, gimana cara pikiran tetap waras. Bisa urus anak dua yang juga ASI eksklusif dominan direct breastfeeding. Walau pada akhirnya, cincin nikah suka disekolahin sebulan sekali ke pegadaian, demi menggaji ART. Tiap gajian, bayar cicilan cincin. Kadang aku iri sama ART ku itu, dia punya gaji, aku enggak. Sampai akhirnya cincin itu gak ketebus sama sekali, ahaha.  Alhamdulillah sekarang sudah ada gantinya.

Lihat tetangga yang jualan online laris, wah dia jago banget jualannya. Kapan ya aku kayak dia.

Lihat adik bisa kerja di perusahaan bagus, ih aku kok gak dikasih kerja ya? Bisa beli barang pakai duit sendiri, insecure lagi.

Lihat teman jadi PNS, dalam hati bertanya-tanya, aku sudah tiga kali nyoba tes CPNS kok gak lulus lulus ya?

Lihat tetangga kerja di perusahaan bonafid, urus rumah tanpa ART, dan anaknya pintar-pintar, iri lagi.

Lihat mantan pacar suami masih langsing, ih aku kok gak kayak dia ya? Ntar suamiku balik ke sana, bagaimana? #pernahNgerasaBegini?

Lihat anak tetangga jago renang, anakku kok ga bisa?

Lihat teman jago masak, di pikiran suka ngenes, mereka kok bisa? Aku kok enggak?

Lihat teman yang jago urus rumah, cantik, rajin perawatan, keingatan saldo uang belanja.  Kok uangku sedikit ya?

Teman-teman. Pasti, selalu ada celah yang membuat kita rendah diri. Melihat orang dengan berbagai pencapaiannya, dan kita biasa-biasa saja, itu menyakitkan.

Mau sampai kapan kita merasa begini? Mau sampai kapan menilai rendah diri sendiri? Terlebih di zaman Pandemi, rendah diri, sering sedih, sering baper, itu bisa meningkatkan resiko tertular penyakit. Beneran!

Siapa lagi yang menghargai diri kita, kalau bukan kita sendiri? Orang orang sekitar bisa saja merendahkan kita. Anggap angin lalu. Selama bukan hal yang melanggar agama, jangan pikirkan omongan orang. Tapi kalau kita sendiri yang rendah diri, itu salah.

Boleh saja iri dengan orang lain, boleh saja berusaha supaya bisa seperti orang-orang yang berhasil itu, tapi ketika titik akhirnya beda, ketika level pencapaian kita lebih rendah, jangan marah. Gembira sewajarnya. Sedih sewajarnya.

Mungkin kita bukan siapa-siapa. Cuma wanita biasa dirumah, urus anak, urus suami. Tidak punya kelebihan seperti orang lain. It’s Ok. Wajar. Tapi mari kita ingat banyak orang yang hari ini tidak seberuntung kita.

Ada perempuan-perempuan yang semasa pandemi, menjadi tulang punggung. Ada yang ditinggal nikah lagi. Ada juga singlemom yang suaminya sudah meninggal. 

Ada banyak ibu yang tinggal jauh dari bayinya, merantau ke negeri orang. Bahkan ada juga yang hidupnya penuh cobaan.

Percayalah. Hidup kita yang kita rasa hari ini tak ada apa-apanya, jenuh, itu-itu saja,  banyak orang yang ingin ada di posisi kita, andai bisa. Sayangnya mereka tak bisa.

 

 

Comments

Popular Posts