Tips Bila Kuliah di Jurusan yang bukan Pilihan

in , by Rizka Amita Ridwan, September 08, 2021

 





























rnahkah? Berada di posisi yang kamu tidak mau, rasanya ingin berhenti? Nah, kali ini aku mau sharing tentang satu kondisi yang pernah kualami. Untuk member yang hari ini sedang kuliah, ingin berhenti, semoga tulisan ini bisa mengispirasi.

Mungkin ada member yang sedang kuliah, dan kuliah itu bukan minatnya. Misal suka cooking, eh disuruh kuliah sastra. Passionnya sastra, disuruh kuliah ekonomi. Mau jadi arsitek, disuruh jadi guru. Jalaninya lama. Minimal 3-5 tahun kalau  S1, 2-3 tahun kalau D3. Lirik kanan kiri, teman teman sudah tamat. Kita tinggal sendiri dengan titel, senior yang belum lulus. Wara Wiri dengan cap 'angkatan tua' itu rasanya sesuatu.  Jangankan dosen, mahasiswi baru saja ilfil dengan senior yang masih rajin ngampus . Mereka ingatnya, "Ih, itu kan Abang yang lama tamat itu? Padahal orangnya ganteng. Gak maulah aku sama dia. Jaga jarak ah. Urus kuliahnya saja dia malas, apalagi ngurus aku." Eaaak. Jangan GR ya Dek. Mau kujawab kalau ada junior yang bilang itu. #Hay Dek, akupun tak mau sama Kau. #keluar Medannya.

Kembali ke topik utama. Jadi begini, penyebab seseorang lama tamat kuliahnya itu, ada macam macam. Bisa jadi jurusan yang dituju ketinggian sementara  kita biasa saja. Bisa jadi dananya habis. Bisa jadi gebetan sudah nikah sama orang jadi semangat melempem.  Tapi ada juga yang lama tamat kuliah, karena tidak suka jurusan yang diambilnya. Disini aku  bagi lagi ya.

1. Kuliah atas pilihan sendiri, di jurusan yang kita tidak mampu. Mampu itu ada dua jenis. Mampu secara dana. Atau mampu secara kepintaran. Contohnya banyak.  Sudah disebutkan di atas ya. Kita lihat orang gagah kuliah kedokteran, padahal sendirinya tidak pintar, suka pingsan lihat darah, menjerit kalau disuntik. Nengok kecoa terbang. lari. Disini  penting untuk menyelaraskan antara diri dengan jurusan yang dituju. Jangan memilih jurusan karena gengsi. Jadi dokter itu butuh mental kuat. Pemilik jiwa rebahan kayak kita ini, jangan ambil kuliah yang butuh keberanian.

2. Kuliah karena ikutan teman, di jurusan yang kita tak suka. Melihat teman ramai pilih akuntansi, diri sendiri pun ikut. Anak tetangga kuliah tehnik, kita ikut. Sayangnya pas kita masuk, ternyata itu sulit. Terutama karena duit yang dihitung cuma angka, haha. Terpikirlah untuk berhenti.  Terpikirlah mau berontak. Lihat ke kanan, teman yang anak pengusaha, sudah berhenti kuliah lalu buka supermarket. Lihat kiri, teman yang anak pejabat, sudah buka resto. 

Yang jadi pertanyaan, misal kita yang bukan siapa siapa ini, tak punya keahlian juga, malas malasan, apa boleh berhenti kuliah? Dana ada tapi setengah hati menjalani kuliah. Tambah bingung kan?   Suka tidak suka, mau tak mau, mari bertanggungjawab. Kita sudah dewasa. 

Karenanya,  yuk kita cari alasan yang kuat.  Hari ini kita  butuh alasan supaya bisa menyelesaikan kuliah kita.  Apa saja alasan itu? 

1. Percaya bahwa ini adalah takdir Allah
   Lho kok bawa bawa agama? Iya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:.                                                      
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash. 

Ada juga firman Allah di QS Al An'aam 59:
وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“..dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)”. (QS Al An’aam 59)
Apapun yang terjadi kini, bahkan daun yang jatuh, sudah takdir Allah. Mau kita berlari, takkan bisa kita hindar. Kuliah yang bukan passion kita itupun, adalah takdir Allah. 

2.. Sadari bahwa kita ini beruntung 
Mengutip data dari Republika per 2018, jumlah mahasiswa seluruh Indonesia mencapai 7,5 juta. Jumlah ini masih kecil dibandingkan dengan usia pendidikan kita," kata Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Kemenristekdikti Misbah Fikrianto. Ia menjelaskan, mahasiswa untuk pendidikan S1 rata-rata berusia diantara 19-23 tahun dengan tingkat populasi 80 hingga 107 juta. Sementara yang mendapatkan layanan pendidikan tinggi hanya sebanyak 7,5 juta yang artinya masih jauh atau mencapai sekitar 32,9 persen. Bayangkan  ada 72-99 juta orang  usia produktif yang tidak bisa duduk di bangku kuliah dengan berbagai alasan.

Nah kita, Alhamdulillah beruntung. Punya keluarga yang support kita untuk kuliah. Ada ayahbunda yang rela jungkir balik di kantor, di pasar, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, supaya kita bisa kuliah.

3. Birrul Walidain
Jadi ceritanya, aku pernah jumpa sekitar empat kali dengan ibu yang berbeda, yang anaknya tidak tamat kuliah. Ada ibu yang kerja kantoran. Ada juga ibu rumahan. Kesamaan mereka adalah, dana ada tapi anaknya tidak mau menamatkan kuliah. Tak main main, salah dua diantara empat itu, sempat lulus di kedokteran PTN. Tapi keempat anak yang tak saling kenal itu seolah kompak jalan di tempat. Padahal aku  tidak bertanya, tapi seseibunya saja yang cerita tanpa diminta. Sedih sudah pasti. Bagaimana kalau wajah yang sedih itu kita buat tersenyum? Anggap sebagai Birrul Walidain, bentuk bakti kita kepada orangtua. 

Anggap sebagai  balas jasa kita ke orangtua yang ingin anaknya berhasil. Kuliah memang bukan jaminan seorang pasti berhasil. Tapi menamatkan kuliah karena ingin orangtua bahagia, Insyaa Allah bernilai pahala. Coba baca kisah Uwais Al Qarni, kisah pemuda yang menggendong ibunya dari Yaman ke Mekah, demi permintaan ibunya. 

Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Uwais.  Bisa jadi, tekad kita menyelesaikan kuliah, dinilai sebagai ibadah, karena niatnya ingin menyenangkan orangtua. Minta kekuatan sama Allah.

4. Kalau memang tak suka dengan jurusan itu, tamatkan.

Apa Esmeralda? Gak salah saran elu? Menjalaninya saja susyah, ini disuruh namatin. Beh...ngajak berantam ini. #siapa disini yang tahu Esmeralda, kita jangan tunjuk tangan.
Jadi aku dapat rumus ini dari Kakakku yang cerita perihal temannya. Memang sering dijumpai orang seperti kita kita ini. Katanya, "Kalau kamu tak suka dengan jurusan itu, tamatkan. Ayah Ibu sudah berusaha sekolahkan kita. Hargai mereka dengan menamatkan kuliah. Supaya bisa cepat mengerjakan hal lain yang kamu suka."

Pertama mendengar rumus ini, hati tak terima. Cemanalah ya aku memang melankolis. Suka sedih kalau diingatin. Tapi itu usul yang baik, walau berat, dijalankan. Sampai akhirnya aku ikut kegiatan eskul di kampus, ikut koran kampus, mesjid kampus, sambil pelan pelan berusaha meningkatkan IP yang tadinya 1,2 jadi 2,1. Ku ingat betul pas jumpa dosen waliku di semester pertama dia lihat IP ku cuma 1,2. Dia bilang, "Semester depan IP Mu harus minimal 2, atau Kau di DO." 

Alhamdulillah semester depannya naik IP ku. Diucapkannya juga selamat untukku, hihihi.
Alhamdulillah di semester selanjutnya IP ku meningkat.

Ikut kegiatan eskul lumayan jadi obatku agar bisa menyelesaikan kuliah. Lihat teman kanan kiri yang cepat tamat tak lagi buatku iri. Alhamdulillah motivasiku sudah dapat. Ingin bahagiakan orangtua. Bonus tambahannya, kalau aku tamat, aku tak perlu belajar ini lagi.

Masa kuliah itu sudah saatnya kita bertanggungjawab menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Kita sudah dewasa. Masalah nanti kerja sesuai apa enggak dengan jurusan kita, selama bekerja yang halal, tak masalah. 

Aku senang waktu ayah Ibu kami cerita tentang anak anaknya. Aku senang ketika ayah cerita ke temannya bahwa kami, lulus semua. Aku senang saat ayah berbinar bilang, anakku ada satu tamat di akuntansi. Aku senang ketika ayahku mengelus kepalaku saat aku kecapekan belajar lalu tertidur di depan komputer padahal itu layar jelas jelas menunjukkan cerpen yang kutulis. Kutahu ayah tahu aku berat menamatkan kuliah, tapi Alhamdulillah tamat. Senang rasanya melihat ayah ibu senang. Rasa bahagia orangtua itu tak terbeli, yakinlah. 


5. Poin yang terakhir ini lebih ke orangtua.

Orangtua punya semacam Indra keenam yang bisa mendeteksi saat anaknya malas kuliah. Tips disini kutulis berdasarkan apa yang orangtuaku lakukan. Coba tanya ke anaknya, "Mama tak minta nilaimu tinggi. Mama sayang kamu. Apa yang bisa Mama lakukan supaya Kamu tamatkan kuliahmu? "

Orangtuaku dulu tak marah marah ke anaknya. Bagian 'gak marah marah' ini lumayan sulit. Kita kan berpikir marah tanda peduli.  Padahal belum tentu. Setidaknya beri anak ruang, jangan diceramahi setiap hari. Ayo ajak anak mengerjakan hobinya. Entah itu olahraga, menulis,  renang, organisasi, memasak. Siapa tahu pikiran yang tadinya kusut, bisa lebih longgar jadi dia bisa bertahap menamatkan kuliahnya. Biarkan dia selesaikan kuliah dengan caranya sendiri. Ada tipe orang yang diawasi malah jatuh. Dibiarkan malah bangkit. Kalau kita sendiri begitu, bisa jadi anak kita juga begitu.

Selebihnya, jika semua cara sudah dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah. Mungkin Allah punya rencana untuk kita. Kembali lagi ke poin satu, apapun yang terjadi hari ini, sudah takdir.

Demikian sedikit tips dariku untuk teman teman yang sedang galau kuliahnya mau lanjut atau berhenti. Jika ada manfaat, bisalah ya direnungkan dimalam Minggu yang melow ini. Kalau tak bermanfaat ya sudah, lewatin saja. Tapi harus diingat, ada resiko dari setiap keputusan. Ada juga resiko jika tak memutuskan.

Bekasi, 3 Oktober 2020
Rizka Amita
Penulis buku 'Yes, You Can. Diary ASI Ibu Baru dan Perjuangan Menghadapi Babyblues.'








SHARE 0 comments

Add your comment

Terimakasih telah singgah di rumahami. Mohon tidak meninggalkan link di kolom komentar. Admin menerima endorse dan kerjasama. Untuk info bisa ke wa.me/+6287775640471

© Tempat Lihat Suka Suka · Designed by Sahabat Hosting