Ingin Jadi Blogger

 


Dua bulan terakhir, aku dilanda galau. Ingin mencoba bisnis baru yaitu jadi bakulan makanan. Sebelumnya aku sempat mencoba beberapa bidang, tapi tidak fokus. Mulai dari jualan skin care, reseller baju, sampai MLM. Karena memang tidak fokus, hasilnya ya, begitulah, xixixi.

Ada orang dengan tipe jualan palugada, sukses di semua bidang. Sementara aku, mencoba palugada, tapi gagal. Arti gagal disini tidak selalu berakhir dengan kerugian. Menjalani usaha dengan setengah hati, juga membuatku merasa gagal. 

Lho, kok bisa menjalani usaha setengah hati? Iya. Karena passionku bukan di situ. Lalu apa passionku?

Passion adalah sesuatu yang kita merasa senang melakukannya, baik senang maupun susah. Segera kuingat, ada satu hal yang rutin kulakukan dari dulu sampai sekarang. Menjadi semacam kebutuhan. Yaitu menulis. Apa? Menulis? Iya.

Minimal dua hari sekali aku menulis, entah di Facebook, atau di HP. Kadang ikut grup penulis cerita anak, walau masih amatiran. Aku suka artikel non fiksi. Berharap sambil menulis juga bisa memberi sedikit manfaat untuk pembacanya.

Oh ya, aku sudah menulis buku Solo yang berjudul ‘Yes, You Can. Diary ASI Ibu Baru dan Perjuangan Menghadapi Babyblues.”

Buku ini berisi, kisahku waktu berusaha memberikan ASIX untuk anak sulung kami. Ternyata menyusui tak segampang buka kancing baju. Ada hal yang lebih kompleks. Di saat yang sama kami juga diuji dengan masalah ekonomi. Alhamdulillah semua sudah lewat. Banyak orang bilang aku tidak bisa menyusui, Alhamdulillah akhirnya bisa.

Kembali ke tema awal ya. Nah, sebelumnya kan aku sudah katakan aku ingin jadi bakul makanan karena di masa pandemi begini, produk makanan laris. Tapi aku tak diizinkan.

Kata suamiku, aku ini tipe mood swing kalau masak. Kadang enak banget. Kadang enak aja. Kadang ga enak. Sementara kalau jualan kan harus enak terus. Standarnya ada. Apalagi kami punya dua anak usia SD yang sedang butuh perhatian emaknya. Pada akhirnya aku harus memilih. Berharap akan ada masanya aku jual makanan buatan sendiri. Dan itu bukan sekarang.

Ditengah kebingungan, Masyaa Allah, lewat sebuah artikel saat aku sedang scroll FB. Ada beberapa profesi yang bisa dilakukan ibu Rumah Tangga. Salah satunya adalah penulis di blog.

Aku terkejut. Ternyata inilah yang seharusnya kulakukan. Kenapa aku tidak mencoba jadi blogger? Selain menyebarkan ide, blog bisa juga jadi tempat jualan. Aku jadi semangat.

Langsung ku japri seorang teman, lalu bertanya. Lebih tepatnya curhat. Dan saran dari dia adalah, iya Mi, jadi blogger aja!

“Tapi aku ragu, bisa apa enggak. Sepertinya jadi blogger itu sulit.” jawabku.

“Sudah coba aja. Kamu bisa ikut komunitas untuk jadi blogger. Yang penting rajin nanya, rajin nulis, Insya Allah Kamu bisa!”

Maka aku mulai nge blog lagi, Ditambah dukungan suami. Yang penting harus serius dan bermanfaat, katanya.

Setelah bicara dengan seorang teman lagi,  kuberanikan beli domain sendiri. Walau di awal rada gaptek. Alhamdulillah juga di grup WA kami, blogger yang senior mau memberi saran kepada newbie.

Pas sekali waktu ada promo buku ‘Ngeblog dari 0 nya IIDN,” Aku langsung ikut PO. Aku ingin segera membacanya.

Kedepan, semoga dengan mengikuti kelas ‘Ngeblog dari 0 IIDN, bisa melatih konsitensiku menulis. Berada di antara sesama blogger pemula membuatku berani, karena kami sama-sama belajar. Terimakasih IIDN.


Rizka Amita

Bekasi, 20 Oktober 2021

 

 

 

Comments

Popular Posts