Kucing Tetangga


Sejak kecil, aku bukan pecinta kucing. Pun sampai menikah dan punya anak, aku masih jaga jarak dengan kucing. Bukan apa-apa, aku sadar diri tidak telaten. Sampai kemudian, si sulung kami meminta kepada ayahnya, untuk diberikan anabul. Itupun dengan catatan, dia yang urus semuanya. Emak lepas tangan.

Anabul kami sepasang, jantan dan betina. Si Sulung begitu sayang dengannya. Apalagi memang itu kucing, lagi lucu-lucunya.

Lalu kuteringat, bahwa pernah lima bulan lalu, ada kucing ras dewasa yang suka mampir ke rumah kami. Kucingnya bersih, lucu. Dia pernah masuk rumah kami dan tak mau keluar.

Satu yang kuingat adalah, kucing ini sering tidur di teras rumahku. Dan menyebabkan helm yang kutaruh di teras, dan kursiku, bau pesing kucing.

Apa yang kulakukan kemudian? 

Aku tanya di grup ibu ibu, siapa yang punya kucing itu. Alhamdulillah besoknya kucing itu tidak berkeliaran lagi. Kemungkinan sudah diamankan pemiliknya.

Dengan keterbatasan pengalamanku di dunia anabul, ingin kusampaikan. Jika ada kucing tetangga yang mungkin mengganggu kenyamanan kita, ada baiknya memberitahu si pemilik kucing atau anjing (atau hewan peliharaan lain), perihal ini.

Misal, itu kucing/anjing, kencing sembarangan di teras kita, ya kasitahu ke pemiliknya. Tapi jangan membuang kucing itu jauh-jauh, atau malah membunuh kucing itu.  

Namanya hewan, ya kurang akalnya. Jangan kita ambil tindakan sesuka hati kita. Membuang kucing jauh, membunuh hewan peliharaan orang, bukan hal bijak. Kita tak tahu, bisa jadi hewan peliharaan itu, sangat dekat dengan pemiliknya. Teman tidur, teman main, penghibur hati anak pemiliknya, kita tak tahu.

Cukup sampaikan ke pemiliknya, bahwa hewan peliharaan mereka, mengganggu kita. Kalau pemiliknya tak terima dan sudah sangat mengganggu, bisa lapor ke RT setempat. Tapi jangan membuang kucing/anjing itu jauh, membunuhnya, atau malah meracuni. 

Yang sama ngenesnya adalah, jika kita menemukan anak kucing umur seminggu, di jalanan. Kan aneh anak kucing sendirian di jalan. Induknya mana?

Kalau memang kerepotan, dan berencana membuang, setidaknya bersama induknya. Jangan induknya tetap dirumah karena mau dipakai usir tikus. Tapi anak-anaknya dibuang. 

Kita bisa pindahkan mereka ke tempat yang aman. 

Bisa tanya tetangga jika ada yang mau merawat.  Tempat penampungan terdekat, bisa juga jadi solusi. Bayangkan jika kita ada di posisi anak kucing. Kecil, sendiri, tak berdaya, tanpa induknya.

Tapi semua sudah dicoba dan tetap mau buang? Makanya dari awal jangan punya anabul kalau tak sanggup. Giliran dia punya anak,  malah dibuang! Oh ya, masih ada opsi steril juga.

Tulisan ini bukan bermaksud ‘mengajak’ membuang kucing. Tidaaaak! Cuma mau mengingatkan, ada lho, cara yang lebih manusiawi jika kita tak suka kucing/hewan lainnya.

Jangan gak suka kucing, keberadaannya mengganggu kita, malah membawa mereka ke tengah jalan. Kenapa sampai anak kucing ditaruh ke tengah jalan? Supaya kelindas gitu?

Pernah malah, orang memijak leher kucing sampai mati, karena mengganggu di gedung miliknya. Dan dia merasa....biasa aja! Aku yang nonton cuma bisa istighfar. Kok segitunya? Kan kucing itu bisa diusir?

Bagaimanapun, mereka mahluk Tuhan juga. Jika hewan-hewan itu menderita akibat ulah kita, maka kita berdosa. 

Ah dosa kan urusan nanti? 

Teman, jika memang tak mau berubah karena tak percaya dosa, tak percaya surga neraka, itu urusanmu. Tapi setidaknya, mari empati. Jangan berbuat sesuka hati.

Comments

Popular Posts