Kisah Hijrahku di Makassar

 Bismillahirrahmanirrahim



Melanjutkan tulisan sebelumnya, tentang awal kami kenal kajian Sunnah. Jadi tak lama setelah aku mengaji di Lampung, suamiku dimutasi ke Makassar. Aku yang sempat galau, akankah pengajian ini berlanjut, akhirnya berdoa. Ya Allah, aku ridho dengan kepindahan ini. Tapi kumohon berikan kami lingkungan yang baik. Anak anakku semoga dapat sekolah yang baik. Menaiki pesawat Subuh hari meninggalkan kota Lampung, terasa berat. Kutahan rasa di dada. 


Hari itu, kembali baju dan  rok jeans A line  yang kupakai. Rok satu satunya. Sebenarnya bajuku banyak, tapi kebanyakan celana. Saat ini aku berusaha lebih sering pakai rok. Mau beli baju baru terasa nanggung. Nanti saja setelah urusan pindah selesai, kan kubeli rok dua atau tiga lagi. 

Bersama suami, aku membawa dua balita dan barang yang banyak (saat itu belum berlaku bayar bagasi jadi kami dapat duapuluh lima kg bagasi per orang. Total empat orang, dapat bagasi seratus kg). Barang yang kubawa lumayan banyak. Betul betul mirip pindahan. Biasanya orang pindahan pakai pick up, kali ini kami naik pesawat. Barang barang yang kubawa antara lain, kasur single bed, dua, sudah diwrapping untuk masuk bagasi. Ada rice cooker, baju 2 koper besar, dan alat masak  sekardus. Sampai sampai petugas bandara tahu, "Ini mau pindah ya, Pak?" 
"Iya,"jawab suamiku.

Dua kali transit capek juga. Dari Lampung ke Jakarta, lalu Jakarta ke Makassar. Di Makassar kami tinggal di dua hari di hotel, sebulan di kos an, sampai akhirnya sewa rumah. Kata suamiku rumah yang kami sewa, bakal dekat ke sekolah anak. Aku bingung. Kok bisa suamiku langsung daftar sekolah anak, tanpa kasitahu istrinya. Kesal mode ON.

Biar awalnya curiga,  aku malah jatuh cinta di pandangan pertama, saat mendatangi sekolah anakku. Alhamdulillah dapat sekolah Sunnah. Gurunya bercadar semua. Kelas perempuan dan laki-laki dipisah bahkan sejak kelas satu. Masyaa Allah Tabarakallah, kebimbanganku dijawab tuntas oleh Allah disini. Allah dengar doaku, Alhamdulillah. 

Di sekolah ini, orangtua murid dikoordinir supaya ikut kajian bulanan. Di kajian bulanan itu, kami diarahkan lagi, mengikuti liqa yang anggotanya lebih sedikit, sekitar delapan orang. 

Jangan dipikir orang yang ikut pengajian itu, sudah alim semua. Kalau perempuan kan paling mudah dilihat dari pakaian ya. Nah..temanku ada yang harinya sudah gamisan kemana mana. Ada juga yang kalau ke sekolah anak, jilbab lebar, kalau kerja jilbab lilit. Yang hobi Selfi juga ada. Ya begitulah. Apapun keadaan kami, kami datang kajian. 

 Jangankan orangtua murid, bahkan OB sekolah dan Ibu Ibu sekitar yang bekerja sebagai ART  di komplek dekat sekolah, ikut kajian. 

Alhamdulillah rumah kami agak besar.  Ada halaman depan yang bisa ditaruh jemuran dan pot bunga. Rumah itu dekat kantor. Semua bagus. Satu satunya masalah adalah, rumah itu bocor parah bila hujan.

Bukan hujan biasa.  Musim hujan deras bisa mulai pagi selesai siang, atau siang selesai sore. Rumah itu setahun tak dihuni dan saluran air di atap tertutup daun daun. Jika hujan deras, ada satu asbes dapur bocor dan mengucurkan air dalam setengah jam, bisa sampai satu ember besar. Hujan satu jam saja, sudah dua ember. Apalagi kalau hujan dari pagi ke siang. 

Seminggu pertama, ini adalah cobaan bagi wanita tidak setrong sepertiku. Kalau hujannya malam, ada suami yang buangin air itu. Kalau hujannya siang, aku sendiri dirumah dengan anak usia sekolah dua orang. Tiap hari sepulang antar anak dua orang, jam delapan pagi, hujan deras. Bajuku basah semua. Itu masih tunik panjang dan celana. 

Hujan tetap melanda. Dan air bocoran masih rajin masuk kerumah kami. Jujur aku takut kalau sampai banjir serumah. Daerah belakang rumah kami malah, kalau banjir sampai sepinggang. Yang kuingat saat itu,  sangking derasnya hujan,  air naik dan deras sekali di bawah Jembatan Kembar. Menjadi semakin sedih karena ada juga warga hanyut terbawa air. Bahkan rumah juga hanyut dibawa air.
 
Jadi selain urus rumah, kerjaku juga membuangi air. Siaga jika air meluap. Kami sempat hubungi pemilik rumah tapi tukang baru ada minggu depan.

Anehnya, ditengah adaptasi kami baru pindah, hujan deras, urusan rumah,  dan resiko air bocor berember tadi, tak tahu kenapa, timbul keinginanku untuk pakai hijab syar'i. Padahal  situasi sedang sulit, kok mau pakai baju yang repot? Begitu kata hatiku yang lain. Pakai yang ringkas saja napa? 
Ini seperti pertentangan batin. Kutahu, sekali aku pakai hijab syar'i,  maka seterusnya harus kupakai.. Sementara hari hariku antar jemput dua anak kadang bawa anak ke klinik yang lumayan jauh dari rumah, naik motor. Yang kubayangkan betapa repotnya kemana mana pakai jilbab besar.

Tapi sudahlah. Dipikiri pikir malah ujungnya menunda. Kucari baju gamis yang kloknya tak lebar.  Jilbab yang tak terlalu besar. Dan kaus kaki. Ritmenya begini. Pagi antar anak pakai gamis. Pulang dari antar anak biasanya hujan deras, baju basah sampai kedalam. Aku langsung ganti baju. Jam sebelas antar makan siang sekaligus jemput anak kedua. Pulangnya...bajuku  basah. Ganti lagi. Rumahku dekat sekolah jadi aku lebih baik bolak balik toh dirumah banyak kerjaan. Jam satunya, berangkat lagi jemput si Kakak. Pulang jemput si Kakak ada hujan lagi. Bajuku basah lagi. Saat itu kami belum punya jas hujan. Mau kubeli tapi nanggung karena barang barangku termasuk jas hujan, sedang otw Makassar naik kargo. Jas hujan lama punyaku, masih bagus. Pikirku daripada beli baru tapi tak bagus lebih baik kutunggu yang bagus. Anehnya lagi...jas hujan sendiri tak kubawa ke Makassar. Tapi jas hujan anakku, kubawa. Ibu Ibu mah gitu. Barang anak dia ingat. Barang sendiri malah lupa. Ada yang sama? Hehehe.

Kembali ke laptop.  Jadi dalam sehari, aku bisa tiga kali ganti gamis. Ingin jadi baik disituasi ini, membuatku terharu. Banjir dimana mana dan banyak korban,  menimbulkan rasa betapa kecilnya aku.  Betapa lemahnya aku. Jadi sambil ambil gamis, ambil kaus kaki, itu aku menangis lagi. Ya Allah kalau memang aku harus jadi baik sekarang, merangkak jadi baik di situasi begini, aku ridho. Memakai kaus kaki sementara kita tahu akan basah kuyup itu rasanya sesuatu. 

Semua mengalir begitu saja.  Mendung sepanjang hari dari pagi ke pagi, datangnya hujan tak bisa diduga. Hari ketiga aku mulai berdoa. Ya Allah aku tidak kuat. Kutahu hujanMu rezeki. Tapi...kumohon kalau sudah dekat jam jemput anakku, tolong hentikan hujan ini sebentar saja. Setidaknya sempat kujemput anakku.

Apa yang terjadi setelahnya sodara sodara? Masyaa Allah, Tabarakallah, hujan yang tadinya lebat, berangsur berhenti. Setelah pakai gamis, jilbab dan kaus kaki, aku  bergegas. Di motor sepanjang jalan lagi lagi aku makin terharu. Ya Allah, banyak sekali kau kabulkan doaku. Aku jadi malu. Semakin terasa kalau diri ini hamba yang lemah. Dulu ku heran melihat teman yang suka nangis kalau ingat dosa. Lihatlah, sekarang aku yang mudah menangis. 

Ada satu momen dimana aku usai jemur pakaian di teras tanpa kanopi, langsung pergi jemput anak, pas pulang malah hujan deras. Tapi kuheran , kenapa jemuranku sudah diangkat? Ternyata tetanggaku WA. Katanya Nenek di seberang rumahku yang angkatkan. Masyaa Allah. Padahal aku belum kenal Nenek itu. Tapi dengan baiknya dia angkatkan jemuranku keteras dalam. Siapa lagi yang menggerakkan Nenek itu untuk angkat jemuranku, kalau bukan Allah? Esok paginya kudatangi Nenek itu dan mengucapkan terimakasih. 

Usai di WA tetanggaku, buru buru kuganti gamis yang basah semua, kembali aku terharu. Terlalu banyak isyarat yang Allah kirim padaku sejak aku meminta hidayah, sejak aku meminta sekolah yang bisa membantu kami mendidik anak anak kami. Bahkan di komplek tempat tinggalku ada mesjid besarnya yang aktif adakan kajian. Allah jawab semua doaku, tuntas. 

Terus terang aku masih bingung, kenapa dengan diriku? Ingat dosa, nangis. Ingat anak, nangis, ingat suami, nangis. Merasa kurang tapi tak tahu apa yang kurang.  Alhamdulillah kehidupan kami baik. 

Selain ikut kajian, kusempatkan juga mendengar radio dakwah, disambi masak dan beberes. Sampai akhirnya kudengar dari seorang Ustad. Perasaan mudah terharu itu, karena Allah sedang perhatikan kita. Allah ingin kita lebih dekat kepada-Nya. Siapapun yang mendapati perasaan seperti ini, seharusnya bersyukur. Disebut juga hidayah. Hidayah yang datang karena diminta. Bukan hidayah yang datang tiba tiba.

Lalu apa yang ingin kusampaikan? Ini dia. Tentang hidayah. Pasti ada, momen dimana kita merasa lemah, mudah menangis mengingat dosa. Tapi perlu diingat, mudah menangis saat melihat isi dompet, itu bukan hidayah ya, hihihi.

Nah...momen saat mudah menangis itu, jangan dilewatkan. Hidayah itu barang yang muaahal. Tapi hidayah juga datang bukan jatuh dari langit. Dia datang karena diminta. Kita sholat minimal lima kali dalam sehari. Membaca Al Fatihah minimal tujuhbelas kali sehari. Maka minimal tujuhbelas kali juga kita meminta hidayah. Buktinya tiap sholat kita ucapkan surat Al Fatihah ayat enam. 

Mungkin ada di antara kita, mau berjilbab syar'i terasa sulit, mau sholat lima waktu, tak bisa bisa. 

Mungkin hari ini kita berada di posisi terbawah hidup kita. Miskin, diputusin pacar, dipecat kerja, batal nikah, malas sholat, usaha bangkrut,  banyak hutang, tak bisa lepas dari film bokep,  rumah tangga hancur, galau, ingin bunuh diri  Tak ada tempat meminta tolong karena semua teman menjauh.

Mungkin ada saat ini, walau kita sering buat dosa, makan harta haram, bahkan sampai berzina, masih ada hati kecil yang bilang itu salah dan kita menangis karena mengingatnya.

 Bisa jadi itu tanda Allah sedang perhatikan kita. Dibuat Nya kita menangis karena mengingat dosa. Dibuat Nya kita menangis karena kita merasa lemah. Nah, momen seperti ini jangan diabaikan. Tapi diterima.

Ah, cuma begitu doang  ditulis? Ya kali mati masih lama. Kalau ada yang bilang begitu, cuekin saja. Seperti apapun kita hari ini, ketika menangis mengingat dosa kita, ingatlah ada Zat Maha Pengasih yang akan selalu menerima kita. Jangan merasa kotor untuk menerima hidayah tadi. Jangan pernah merasa malu untuk meminta hidayah, untuk mencari ilmu, mendatangi kajian. Ayo kita cari. Jangan pasrah.

Tapi kok sulit? Yang penting kita berdoa. Nanti ada jalannya. Doanya yang rajin, jangan bolong bolong. 

Ingat kan? Kisah wanita yang berzina, sampai hamil, lalu mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk minta dilaksanakan hukum had kepadanya? Itu bukti bahwa siapapun punya hak menjadi baik.

Tak ada yang melarang preman ikut kajian. Tak ada yang boleh menolak, PSK datang kajian.  Tinggal bajunya saja pakai yang sopan. Tak ada yang berhak mengusir, pelaku riba datang kajian. Kecuali kita bicara kita siapa, maka orang tahu. Kalau kita tak bicara, orang tak akan dan tak perlu tahu.

Siapapun berhak mendapat hidayah. Langkah awalnya apa? Memperhatikan isyarat halus tadi yang Allah kirim ke kita. Bentuk awal hidayah macam macam sesuai keadaan tiap orang yang berbeda. Kalau kami yang IRT ini, maka awal tanda hidayah tadipun, tak jauh jauh dari aktivitas rumah tangga. 

Mau kan meminta hidayah? Selagi nyawa masih dibadan, masih ada kesempatan. Lebih baik jadi penjahat yang berakhir jadi orang Sholeh daripada orang Sholeh yang akhir hidupnya jadi penghuni neraka. Hijrah itu mudah. Ampunan Allah Maha Luas. Godaan yang mengatakan bahwa kita terlalu banyak dosa jadi sia sia bertobat, itu godaan setan. Godaan yang bilang 'urus urusanmu sendiri' dan tak mau diingatkan, itu bukan sikap kita. Ditegur manusia didunia,  walau sakit, masih lebih ringan daripada ditegur malaikat di alam kubur.

Mau berubah jadi baik? Pasti mau ya.
Bekasi, 10 September 2020

Rizka Amita, Ibu dua anak yang banyak kurangnya.

- Penulis buku 'Yes, You Can. Diary ASI Ibu  Baru dan Perjuangan Menghadapi Babyblues.
  Bitread 2017.

Comments

Popular Posts